Ikhlaskah Kita Bersedekah Dengan Pengemis?

Bulan Ramadhan adalah merupakan ladang penghasilan bagi para pengemis untuk meminta belas kasihan para penderma sebagai bentuk sedekah. Di beberapa tempat seperti di traffic light, warung makan, mesjid dan kuburan adalah merupakan tempat-tempat strategis untuk meminta-meminta.

Hal ini menjadikan peluang bagi mereka yang suka menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang. Dengan berbekal modal sedikit mereka bisa meraup hasil yang berlipat-lipat.

Siapa mereka ???

Ya, Pengemis Gadungan. Dengan modus menjadi orang cacat atau membawa bayi/anak kecil dan lain-lain mereka berbaur dengan para pengemis asli untuk meminta-meminta.

Modus ini pernah di tayangan di salah satu stasiun tv. Dalam penelusuran mereka para pengemis tersebut ternyata dari segi fisik sehat-sehat saja. Tapi dengan berbagai cara mereka memoles tubuh mereka sehingga terlihat seperti orang cacat hanya bermodal lem, kertas koran, betadine, dan kassa pembalut mereka siap melancarkan aksinya.

Modus lain adalah ibu-ibu yang menggendong bayi. Setelah ditelusuri ternyata tidak semua yang mereka bawa adalah anak mereka. Ada juga yang dengan sengaja menyewa bayi/anak kecil sebagai alat agar para penderma mau berbelas kasian memberikan sedekah kepada mereka.

Operasi yang dilakukan oleh pengemis gadungan ternyata ada koordinatornya. Koordinator ini lah yang nantinya memobilisasi para pengemis ini ke tempat-tempat yang akan dituju serta yang mengurus dan mengeluarakan apabila para pengemis tersebut di razia oleh petugas Trantib.

Dari segi penghasilan mereka berbagi penghasilan dengan perbandingan 60:40. Untuk koordinator mereka mendapatkan jatah 60 % dari pendapatan para pengemis per hari. Dan 40% nya untuk para pengemis gadungan.

Penghasilan yang mereka terima perhari berkisar antara 100-200 ribu rupiah.

Jadi kalo dihitung dengan mengambil rata 100 ribu perhari jadi penghasilan yang mereka dapat :

Koordinator : Rp. 100.000 x 60% = Rp. 60.000 / hari

Pengemis : Rp. 100.000 x 40% = Rp. 40.000 / hari

Jadi kalo dalam satu bulan mereka meraih pendapatan :

Koordinator : Rp. 60.000 x 30 hari = 1.800.000 / bulan

Pengemis : Rp. 40.000 x 30 hari = 1.200.000 /perbulan

Ternyata pendapatan mereka sudah melebihi Upah Minimum Regional. Hanya dengan menadahkan tangan mereka bisa meraup pendapatan yang lumayan banyak. Jadi wajar saja kalau umah-rumah yang mereka miliki bagus-bagus yang tidak mencerminkan bahwa profesi mereka hanya seorang pengemis.

Setelah mengetahui fenoma seperti ini kadang waktu bersedekah ke mereka (baca: para pengemis) akan timbul rasa tidak ikhlas karena di antara mereka adalah pengemis gadungan!

Akankah kita ikhlas bersedekah kepada pengemis gadungan?

Bagaimana pendapat Anda?

Iklan

2 thoughts on “Ikhlaskah Kita Bersedekah Dengan Pengemis?

  1. sedekah ketempatnya saja…
    saya memang gak pernah ngasih tu pengemis biarin ajah…

    masih ada rumah yatim
    janda2 di sekitar rumah
    rumah2 singgah anak jalanan
    dsb

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s